SEJARAH SEMUR

SEJARAH SEMUR

Sejak berabad-abad lalu, Indonesia yang terletak di tengah-tengah jalur perdagangan dunia telah dikenal sebagai
kawasan yang memiliki kekayaan alami rempah-rempah. Eksotisme citarasa rempah-rempah ini kemudian
mengundang minat para pedagang dan pendatang dari berbagai bangsa untuk datang ke Nusantara dan melakukan
ekspedisi.
Pedagang dan pendatang tersebut masing-masing membawa budaya yang lambat laun berbaur dengan keseharian
masyarakat asli Indonesia pada saat itu. Pembauran tersebut kemudian menciptakan interaksi budaya dan
mengembangkan berbagai tradisi nusantara yang istimewa, termasuk di bidang kuliner. Kekhasan citarasa
rempah-rempah Indonesia berpadu dengan berbagai variasi teknik pengolahan makanan menghasilkan kreasi
hidangan unik seperti Semur, yang sudah ada dari tahun 1600.
Interaksi antara masyakat Belanda dan Indonesia terutama dalam pengolahan makanan juga turut mengembangkan
cita rasa semur. Makanan yang pernah dijadikan sebagai menu utama dalam perjamuan bangsa Belanda ini berasal
dari kata ‘smoor’ (bahasa Belanda) menjadi ‘semur’ (bahasa serapan). ‘Smoor’ dalam bahasa Belanda berarti
masakan itu telah direbus dengan tomat dan bawang secara perlahan.
Salah satu buku resep tertua dan paling lengkap mendokumentasikan resep masakan di Hindia Belanda, Groot
Nieuw Volledig Oost-Indisch Kookboek yang terbit pada 1902, memuat enam resep semur (Smoor Ajam I, Smoor
Ajam II, Smoor Ajam III, Smoor Bandjar van Kip, Smoor Banten van Kip, Solosche Smoor van Kip). Buku ini
menegaskan bahwa smoor yang kemudian dilafalkan sebagai semur adalah masakan yang dikembangkan di dalam
dapur Indis, kaum peranakan Eropa.
Seiring berjalannya waktu, Semur kemudian melekat menjadi tradisi bangsa Indonesia dan dihidangkan di berbagai
perhelatan adat. Masyarakat Betawi menjadikan Semur sebagai bagian dari tradisi yang selalu dihidangkan saat
Lebaran dan acara perkawinan. Tak hanya menjadi primadona dalam kebudayaan Betawi, Semur juga kerap muncul
pada acara-acara perayaan di berbagai penjuru nusantara seperti Kalimantan dan Sumatera. Tentunya, dengan
citarasa dan tampilan yang disesuaikan dengan selera masyarakat setempat.
Pada awalnya konotasi semur lekat dengan hidangan daging sapi yang diolah dalam kuah berwarna coklat pekat,
namun kemudian dikreasikan dengan daging kambing, ayam, telur, juga untuk produk nabati, seperti tahu, tempe,
terong, dan lainnya. Hidangan semur menjadi sajian sehari-hari di Indonesia. Tak heran apabila semur ditemukan
di berbagai wilayah Indonesia dengan ragam citarasanya.
Semur sebagai merupakan contoh seni kuliner sebagai hasil interaksi berbagai suku bangsa di Indonesia yang
diwariskan secara turun-menurun dalam suatu masyarakat tertentu sebagai salah satu identitas. Jadi dapat
dikatakan bahwa Semur adalah juga sebuah bagian identitas budaya kuliner Indonesia.

10 JENIS SEMUR DARI
BERBAGAI DAERAH DI
INDONESIA

  • Semur khas Betawi biasanya menggunakan daging kerbau, tetapi bisa diganti dengan daging sapi. Semur ini menggunakan sekitar 14 jenis bumbu yang dimasak sampai matang
  • Semur khas Jepara menggunakan daging sapi bagian sandung lemur
  • Semur jengkol bisa ditemukan di Jakarta dan Jawa Barat. Jengkol yang direbus sampai empuk, lalu dimasak dengan bumbu semur

SEJARAH SEMUR

SEJARAH SEMUR

Sejak berabad-abad lalu, Indonesia yang terletak di tengah-tengah jalur perdagangan dunia telah dikenal sebagai
kawasan yang memiliki kekayaan alami rempah-rempah. Eksotisme citarasa rempah-rempah ini kemudian
mengundang minat para pedagang dan pendatang dari berbagai bangsa untuk datang ke Nusantara dan melakukan
ekspedisi.
Pedagang dan pendatang tersebut masing-masing membawa budaya yang lambat laun berbaur dengan keseharian
masyarakat asli Indonesia pada saat itu. Pembauran tersebut kemudian menciptakan interaksi budaya dan
mengembangkan berbagai tradisi nusantara yang istimewa, termasuk di bidang kuliner. Kekhasan citarasa
rempah-rempah Indonesia berpadu dengan berbagai variasi teknik pengolahan makanan menghasilkan kreasi
hidangan unik seperti Semur, yang sudah ada dari tahun 1600.
Interaksi antara masyakat Belanda dan Indonesia terutama dalam pengolahan makanan juga turut mengembangkan
cita rasa semur. Makanan yang pernah dijadikan sebagai menu utama dalam perjamuan bangsa Belanda ini berasal
dari kata ‘smoor’ (bahasa Belanda) menjadi ‘semur’ (bahasa serapan). ‘Smoor’ dalam bahasa Belanda berarti
masakan itu telah direbus dengan tomat dan bawang secara perlahan.
Salah satu buku resep tertua dan paling lengkap mendokumentasikan resep masakan di Hindia Belanda, Groot
Nieuw Volledig Oost-Indisch Kookboek yang terbit pada 1902, memuat enam resep semur (Smoor Ajam I, Smoor
Ajam II, Smoor Ajam III, Smoor Bandjar van Kip, Smoor Banten van Kip, Solosche Smoor van Kip). Buku ini
menegaskan bahwa smoor yang kemudian dilafalkan sebagai semur adalah masakan yang dikembangkan di dalam
dapur Indis, kaum peranakan Eropa.
Seiring berjalannya waktu, Semur kemudian melekat menjadi tradisi bangsa Indonesia dan dihidangkan di berbagai
perhelatan adat. Masyarakat Betawi menjadikan Semur sebagai bagian dari tradisi yang selalu dihidangkan saat
Lebaran dan acara perkawinan. Tak hanya menjadi primadona dalam kebudayaan Betawi, Semur juga kerap muncul
pada acara-acara perayaan di berbagai penjuru nusantara seperti Kalimantan dan Sumatera. Tentunya, dengan
citarasa dan tampilan yang disesuaikan dengan selera masyarakat setempat.
Pada awalnya konotasi semur lekat dengan hidangan daging sapi yang diolah dalam kuah berwarna coklat pekat,
namun kemudian dikreasikan dengan daging kambing, ayam, telur, juga untuk produk nabati, seperti tahu, tempe,
terong, dan lainnya. Hidangan semur menjadi sajian sehari-hari di Indonesia. Tak heran apabila semur ditemukan
di berbagai wilayah Indonesia dengan ragam citarasanya.
Semur sebagai merupakan contoh seni kuliner sebagai hasil interaksi berbagai suku bangsa di Indonesia yang
diwariskan secara turun-menurun dalam suatu masyarakat tertentu sebagai salah satu identitas. Jadi dapat
dikatakan bahwa Semur adalah juga sebuah bagian identitas budaya kuliner Indonesia.

10 JENIS SEMUR DARI
BERBAGAI DAERAH DI
INDONESIA

  • Semur khas Betawi biasanya menggunakan daging kerbau, tetapi bisa diganti dengan daging sapi. Semur ini menggunakan sekitar 14 jenis bumbu yang dimasak sampai matang
  • Semur khas Jepara menggunakan daging sapi bagian sandung lemur
  • Semur jengkol bisa ditemukan di Jakarta dan Jawa Barat. Jengkol yang direbus sampai empuk, lalu dimasak dengan bumbu semur
  • Semur lidah sapi banyak dihidangkan di Jakarta. Lidah sapi dibersihkan sedemikian rupa , lalu dimasak sampai empuk dengan bumbu semur
  • Semur goreng khas Samarinda menggunakan daging ayam sebagai bahan utamanya. Setelah diungkep dengan bumbu semur, lalu digoreng
  • Semur khas Ternate biasanya menggunakan daging babi atau sapi. Uniknya, ada tambahan cuka pada bumbu semur, sehingga rasanya sedikit asam dengan warna lebih bening
  • Semur terung tahu cocok dikonsumsi para vegetarian, karena tidak disertai daging apapun, yang berasal dari jawa barat
  • Semur ikan tambak kerap dijumpai di Purwokerto, Jawa Tengah.
  • Semur ayam tersebar di Pulau Jawa. Biasanya disajikan bersama irisan kentang atau tahu
  • semur bandeng yang dikenal berasal dari Surabaya, Jawa Timur

Karena kita disini membahas tentang semur Betawi mari kita pelajari dahulu tentang suku Betawi. Menurut Wikipedia Suku
Betawi adalah sebuah suku bangsa di Indonesia yang penduduk umumnya bertempat tinggal di Jakarta, Bogor dan
sekitarnya. Mereka adalah keturunan penduduk yang bermukim di Batavia (nama kolonial dari Jakarta) dari sejak abad ke17. Sejumlah pihak berpendapat bahwa Suku Betawi berasal dari hasil perkawinan antar etnis dan bangsa pada masa lalu.
Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan
bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau suku Betawi sebenarnya terhitung
pendatang baru di Jakarta.[5] Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu
hidup di Jakarta,seperti Sunda, Melayu, Jawa, Bali, Bugis, Makassar, Ambon, Arab, Tionghoa, dan India.

SEJARAH BETAWI

Sejarah Betawi diawali pada masa zaman batu yang menurut Sejarawan Sagiman MD sudah ada sejak zaman neolitikum. Arkeolog Uka Tjandarasasmita dalam monografinya “Jakarta Raya dan sekitarnya dari zaman Prasejarah hingga kerajaan Pajajaran” (1977) secara arkeologis telah memberikan bukti-bukti yang kuat dan ilmiah tentang sejarah penghuni Jakarta dan sekitarnya dari masa sebelum Tarumanagara pada abad ke-5. Dikemukakan bahwa paling tidak sejak zaman neolitikum atau batu baru (3500–3000 tahun yang lalu) daerah Jakarta dan sekitarnya di mana terdapat aliran-aliran sungai besar seperti Ciliwung, Cisadane, Kali Bekasi, Citarum pada tempat-tempat tertentu sudah didiami oleh masyarakat manusia yang menyebar hampir di seluruh wilayah Jakarta. Dari alat-alat yang ditemukan di situs-situs itu, seperti kapak, beliung, pahat, pacul yang sudah diumpam halus dan memakai gagang dari kayu, disimpulkan bahwa masyarakat manusia itu sudah mengenal pertanian (mungkin semacam perladangan) dan peternakan. Bahkan juga mungkin telah mengenal struktur organisasi kemasyarakatan yang teratur.
Sementara Yahya Andi Saputra (Alumni Fakultas Sejarah Universitas Indonesia), berpendapat bahwa penduduk asli Betawi adalah penduduk Nusa Jawa. Menurutnya, dahulu kala penduduk di Nusa Jawa merupakan satu kesatuan budaya. Bahasa, kesenian, dan adat kepercayaan mereka sama. Dia menyebutkan berbagai sebab yang kemudian menjadikan mereka sebagai suku bangsa sendiri-sendiri.
• Pertama, munculnya kerajaan-kerajaan pada zaman sejarah.
• Kedua, kedatangan dan pengaruh penduduk dari luar Nusa Jawa.
• Terakhir, perkembangan kemajuan ekonomi daerah masing-masing.
Penduduk asli Betawi berbahasa Kawi (Jawa kuno). Di antara penduduk juga mengenal huruf hanacaraka (abjad bahasa Jawa dan Sunda). Jadi, penduduk asli Betawi telah berdiam di Jakarta dan sekitarnya sejak zaman dahulu.

PETA PENYEBARAN SUKU BETAWI

suku betawi tersebar luas di daerah Jakarta dan sekitarnya seperti Bogor, Bekasi, Tanggerang dan lain sebagainya. berikut peta penyebaran suku betawi

SENI & BUDAYA BETAWI

Seni dan Budaya asli Penduduk Jakarta atau Betawi dapat dilihat dari temuan arkeologis, semisal giwang-giwang yang
ditemukan dalam penggalian di Babelan, Kabupaten Bekasi yang berasal dari abad ke-11 masehi. Selain itu budaya Betawi
juga terjadi dari proses campuran budaya antara suku asli dengan dari beragam etnis pendatang atau yang biasa dikenal
dengan istilah Mestizo. Sejak zaman dahulu, wilayah bekas kerajaan Salakanagara atau kemudian dikenal dengan “Kalapa”
(sekarang Jakarta) merupakan wilayah yang menarik pendatang dari dalam dan luar Nusantara, Percampuran budaya juga
datang pada masa Kepemimpinan Raja Pajajaran, Prabu Surawisesa di mana Prabu Surawisesa mengadakan perjanjian
dengan Portugal dan dari hasil percampuran budaya antara Penduduk asli dan Portugal inilah lahir Keroncong Tugu.
Suku-suku yang mendiami Jakarta sekarang antara lain, Jawa, Sunda, Melayu, Minang, Batak, dan Bugis. Selain dari
penduduk Nusantara, budaya Betawi juga banyak menyerap dari budaya luar, seperti budaya Arab, Tiongkok, India, dan
Portugis.
Suku Betawi sebagai penduduk asli Jakarta agak tersingkirkan oleh penduduk pendatang. Mereka keluar dari Jakarta dan
pindah ke wilayah-wilayah yang ada di provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten. Budaya Betawi pun tersingkirkan oleh
budaya lain baik dari Indonesia maupun budaya barat. Untuk melestarikan budaya Betawi, didirikanlah cagar budaya di
Situ Babakan.

Betawi memiliki beragam adat dan budaya. Selain itu Betawi punya beragam makanan khas yang terkenal dan lezat. Mulai dari makanan yang berbentuk kue ringan hingga makanan berat yang bisa kita santap dengan nasi. Makanan yang beragam itu digemari baik turis lokal maupun mancanegara, inilah contoh beberapa kuliner khas betawi :

  • Selendang Mayang :Terbuat dari bahan dasar tepung beras dan tepung hunkwe. Selendang Mayang adalah jajanan khas Betawi yang kini sulit ditemukan. Tak banyak orang yang menjual jajanan yang disajikan dengan santan dan es serut ini, padahal rasanya sangat enak dan segar
  • Laksa Betawi : Laksa Betawi adalah jenis hidangan seperti mi. Biasanya laksa terdiri dari mi gandum atau bihun. Dengan kuah kaldu yang dilengkapi sayuran, tauge, daun kemangi dan telur ini maka Laksa makin nikmat dihidangankan saat sarapan atau makan malam
  • Kerak Telor : Makanan khas Betawi ini tekenal dengan rasanya yang gurih. Terbuat dari telur ayam atau bebek, beras ketan putih, ebi yang disangrai hingga menyerupai abon, lalu ditambah bawang goreng dan diberi bumbu halus seperti kelapa sangrai. Kerak telor menjadi salah satu makanan yang sangat populer dan favorit bagi warga Jakarta.
  • Semur Jengkol : Semur jengkol adalah makanan khas Betawi yang hingga kini masih populer di masyarakat Jakarta. Meskipun makanan ini memiliki ciri khas bau dan tidak semua orang suka. Pasalnya, Jengkol yang dimasak dengan berbagai bumbu rempah-rempah yang khas menjadikan jengkol yang awalnya terasa pahit menjadi lezat dan mantap di lidah. Semur jengkol ini bisa kamu jadikan sebagai lauk dengan nasi putih.